Selasa, 5 Juni 2012 lalu Metro TV dengan acaranya, Today’s Dialouge menyajikan suguhan perdebatan menarik bagi masyarakat, karena malam itu 120 menit hadir para mantan atlet bulutangkis Indonesia beserta para pengurus besar PBSI, yang diundang untuk meluruskan asumsi masyarakat mengenai kondisi bulutangkis Indonesia. Dengan tema “mengembalikan kejayaan bulutangkis Indonesia” turut hadir pula malam itu para Dewan Perwakilan Rakyat komisi X dan mantan ketua umum PB PBSI era kepengurusan 2004-2008.

Sesi pertama acara dialog itu, diawali oleh pernyataan kritik legend bulutangkis Indonesia, Rudi Hartono dengan penggambaran perbandingan era ketika ia menjabat sebagai BinPres dan turut menangani tim Thomas Indonesia 2006 yang harus puas menjadi runner’up ia pun memilih mundur sebelum dikecami putusan mundur. Filosofi yang diberi oleh legend itu lantas dijawab oleh Ketua umum pbsi yang jabatannya akan berakhir November ini dengan inti pernyataan, bahwa semua kesalahan yang ada ditubuh PBSI adalah karena saya, namun walau bagaimanapun saya tak akan mundur saya memilih bertahan, ujarnya keras kepala.
Diberi kesempatan mr. Backhand Indonesia turut bersuara, ia mengatakan ketidak kompakannya tim dan penyebab kalahnya tim Thomas, diikuti protes akan pemain junior lapis yang belum menampakkan tajinya, lalu siapa penerus dan pengganti saya ? ujarnya, tak cukup itu ia pun mengkritik sikap perekrutan pemain oleh pbsi yang dianggap ada yang tak fair “jangan karena ada ikatan keluarga main seenaknya masuk aja, bulutangkis bukan sekolah, bukan politik yang bisa dibeli dengan uang” tuturnya menyindir.

Sesi berikutnya ikut menyumbangkan suara, Lius Pongoh mantan Binpres yang mengundurkan diri ditahun 2011 karena tidak kondusifnya PBSI, dengan berani beliau membeberkan segala aib yang selama ini disembunyikan dan ditutupi dari masyarakat. Atas segala pernyataannya para atlet yang tengah berjuang di Thailand pun setuju dengan apa yang dilakukan oleh sosok Lius Pongoh, untuk membongkar aib pbsi. Begitupun kata-atanya yang menyatakan ketidak banggaannya jika pemain seleknas juara sirnas, toh seleknas memang hasil saring srnas loh buat apa lagi ? bukannya level bangga bulutangkis Indonesia itu IC/IS-GP-GPG-SS-SSP dan WBF-WBC-OlIMPIADE-TUScup ?

Pernyataan yang dituturkan Lius merupakan jawaban dari pernyataan Fuad “antek” Djoko Santoso yang merasa bangga pemain seleknasnya mampu juara di dua sirnas. Perdebatan dlanjut ketika Sutiyoso membeberkan pula betapa berat mengurus PB-PBSI selaku induk olahraga kebanggaan Indonesia jadi kalau kalah pasti dicaci namun ika menang dianggap sudah biasa karena masyarakat berfikir itu wajar karena dulu Indonesia memang raja bulutangkis. Bukan perkara mudah pula tutur sang mantan gubernur Jakarta itu mengurus atlet bulutangkis Indonesia, selain harus mengirim mereka ke berbagai turnamen luar negeri yang tentu memerlukan banyak dana dan membuat beliau turut merelakan beberapa isi dompetnya, karena minimnya kontribusi pemerintah dalam membiayai pengirimana atlet padahal itu tentu perlu untuk menambah poin menuju olimpiade, jika tak ikut tentu peluang ke olimpiade minim begitupun peluang mendapat medali emas dan mempertahankan tradisi sejak barcelona.

Sesi yang paling-paling membuat geram adalah ketika pertanyaan tentang pelatih asing yang tidak jelas itu, Li Mao banyak pihak yang tak setuju karena menurutnya kehdiran Limao merupakan salah satu penyebab turunnya prestasi bulutangkis sektor tunggal Indonesia. Kenapa tidak memakai jasa lokal saja ? banyak pihak menyarankan, namun tanggapan tak bersahabat datang dari sang ketua umum, nada berkilah seribu jurus ia keluarkan untuk menutupi keburukan Limao lalu lantang menantang para mantan atlet jika ada yang bersedia melatih sektor tunggal dan menjamin, mari saat ini juga akan saya pulankan Li Mao. Wau menantang sekali dan dengan wajah menertawakan atas apa yang dikatakan ketua umum pb pbsi yang dari bidang militer dengan mental (terlalu) kuat sehingga menutup telinga dari segara himbauan masyarakat demi kemajuan bulutangkis indonesia dan justru hanya menjawab dengan kata evaluasi, percuma dong evaluasi tiga tahun berturut-turut tapi tanpa hasil ? salah satu (mungkin) yang ada difikaran pengunjung baik mantan atlet dan pengurus termasuk

pelatih Verawati Fajrin ddan rekannya Ivana Lie yang menjawab tawaran tersebut dengan kata sindiran tegas bahwa para mantan atlet bukan mengincar posisi pelatih namun ingin yang terbaik untuk Bulutangkis Indonesia.

Tak hanya itu pula, kilah sosok Djoko Santoso yang takmau dikatai kepengurusannya gagal ia justru membawa kebanggaan atas ranking Simon Santoso yang masuk 10 besar padahal (mungkin tanpa ia ketahui) pemain itu pernah ke lima besar diluar kepengurusan beliau. Begitupun kebangggan atas kemenangan pemain Indonesia di turnamen berlevel dibawah GPG-SS-PSS, tragis pemimpin PBSI buta peta kekuatan bulutangkis.

Mungkin ada beberapa sesi yang tidak aku ceritakan disini, seperti komentar dan tanggapan komisi X DPR dan himbauan membosankan dari kemenpore untuk berbenah tanpa memberi fasilitas secara konkret malah sibuk korupsi dan mikirin bola *ups lirik wisma atlet dan hmbalang yang alamat pake nyalain ADhiyaksa Dault sagala haha dasar gatau malu* yah cukup karena menurutku itu bukan pooin pentingnya, tujuan saya hanya ingin memberitakan saja terimakasih untuk yang sudah membaca apresiasi dewa deh... maaf jika tidak sempurna.

To be continue....