Jumat, 18 Mei 2012
The Story of Me : Aku dan Bulutangkis (part1)
Flashback ke tahun bershio Tikus, tahun 2008 tepatnya. Saat itu aku tengah duduk dibangku kelas 6 (enam) sekolah dasar, dan yah sebagai murid yang saat itu sibuk mempersiapkan diri menghadapi berbagai “RUTINITAS” murid paling senior disekolahku bersama teman seperjuangan.
Saat itu aku bisa dibilang murid yang mempunyai jadwal padat di hari aktif bahkan weekend pun juga sangat terlihat bussy. Dari sekolah, bimbingan belajar, latihan kepramukaan, organisasi kelas, organisasi siswa sekolah, dan berbagai macam outbond serta lomba-lomba kepramuaan yang melatih mental yah, itu semua benar-benar menyita waktuku. Tapi aku tidak menyesal, bahkan mengeluh seperti yang dilakukan kebanyakan teman-teman seperjuanganku, apalagi mereka yang juga menekuni dunia olahraga bola voli. Jujur saja aku heran kenapa disekolahku bola voli, renang, sepak takraw, tolak peluru sangat begitu diutamakan, padahal dari semua bidang yang diutamakan itu, aku hanya bisa olahraga renang dan senam selain itu ? nilaiku nol besar mungkin, karena saat itu untuk penilaian lari mengelilingi lapangan pun rasanya paling cepat yang aku bisa, aku hanya mampu finish diposisi kedua, mungkin juga ini efek berat badanku yang berlebih tak seperti teman-temanku yang lain, yah walaupun masih ada yang lebih berlebih dari aku terkadang aku suka mengeluh atas hal ini. Dalam pikirku mungkin aku lemah di bidang semua olahraga aku tak bisa karena beratku yang berlebih ini.
Tapi jujur saja olahraga yang paling dan ingin sekali aku kuasai adalah olahraga bulutangkis !!! aku sering melihat teman-temanku dengan mudahnya bermain olahraga yang kadang bisa dibilang permainan ini. Mengayunkan raket, mengejar bulu angsa dan lalu memukulnya. Pernah sesekali aku mencoba namun apadaya sungguh memalukan. Aku tak bisa berkonsenterasi, memperhatikan buluangsa dan memukulnya dengan tepat ke area lawan. Yang aku lakukan justru memukul angin sehingga mengundang hinaan yang yahh membuatku patah arang tapi dihati ingin untuk bisa melakukannya.
Terakhir yang aku ingat, aku belum bisa memukul buluangsa tepat sasaran adalah saat aku masih duduk di kelas lima. Tapi kini ketika aku duduk dikelas enam, semua mulai berubah. Dimulai dari berat badanku, segala kesibukan itu ternyata menyita nafsu makanku tanpa kusadari. Belum lagi setiap waktu yang disempatkan untuk mempekerjakan otakku untuk bergulat dengan buku-buku pelajaran agar aku bisa mengerjakan ujian kelulusan dengan optimal dan meraih hasil terbaik dari semua usaha dan kemampuanku sendiri.
Ujian kelulusan selesai, saatnya aku bersantai menikmati sisa waktu sebelu mengikuti kegiatan wisata study tour ke Yogyakarta. Jujur saja aku senang ketika tahu, kegiatan wisata tahun ini masih dengan tujuan yang sama seperti tahun lalu, tahun kelulusan kakak kelas sebelum aku yaitu Yogya, rumah Nyai Roro Kidul. Aku sangat ingin ke Yogyakarta, karena tempat itu banyak kebudayaan dan sejarah yang mengagumkan, maklumlah aku sangat cinta pelajaran yang sarat nasionalisme. Seperti biasa jika tak ada rencana kluarga pergi ke pulau madura, aku hanya menghabiskan waktu bersantaiku dirumah dengan televisi.
Saat itu hari Jum’at 9 Mei 2008, aku malas keluar. Akhirnya ku putuskan untuk menonton televisi dirumah, karena tak ada acara yang menarik aku pun memilih memainkan tombol mengganti channel, sampai saat itu aku berhenti mengganti channel saat ada acara komedi, EXTRAVAGANZA di Trans Tv!! lucu sekali ketika pemainnya mempraktekkan cara bermain bulutangkis, dengan raket yang menurutku amat besar dari gabus mereka mengundang gelak tawa para penonton karena mereka tak bisa bermain dengan benar. “sama sepertiku” ujar hati kecilku sembari terkekeh geli dengan tingkah konyol lakon di televisi. Sampai iklan, akhirnya aku putuskan mengganti channel dan kembali berjenti di channel Trans 7 saat itu ada iklan Uber Cup antara INDONESIA vs JEPANG. Saat itu yang aku pikirkan adalah, kekejaman Jepang ke Indonesia dan yang terlintas dibenakku aku harus menonton karena ini menyangkut harga diri bangsa. Aku berfikir demikian, tanpa tahu acara apa yang akan aku tonton tersebut, aku mencatat tanggalnya, 13 Mei 2008 pukul 13.00 di trans 7.
Menjelang acara Uber cup tersebut, yang aku tahu temang-temanku dan tetanggaku banyak yang demam pegang raket. Aku heran, karena selama ini jarang sekali kompak teman dan tetanggaku bersama-sama memegang raket. Dulu ketika usiaku 4 tahunan aku sering memang melihat pamanku bermain olahraga ini, tapi setelah aku kelas 3 dia justru pindah ke Jayapura tak ada lagi orang rumah yang sering bermain bulutangkis seperti dia, bahkan dia berusaha membuat aku bisa walau aku tetap tak bisa meski telah dibelikan raket sekalipun.
Hari yang kunanti pun tiba, uber cup 2008, Indonesia vs Jepang. Aku terkesima ketika apa yang aku tonton ini adalah sebuah pertandingan olahraga bulutangkis ! awalnya aku ingin pindah channel karena aku tak ingin sakit hati lagi dengan olahraga ini. Tapi hati kecilku enggan karena ini atas nama negara, ku ambil raket yang aku gantung dibalik pintu kamarku. Mataku justru fokus dengan tayangan di televisi. Bagiku mungkin ini pertama kali aku menonton acara bulutangkis dengan jiwa nasionalisme. Ku petik senar raket itu semabri fokus menyaksikan sosok Maria Kristin Yulianti melawan Eiko Hirose dar Jepang. Terasa ada aliran lain yang membuat tanganku mengikuti setiap pergerakan pemain Indonesia itu.
Partai pertama Maria kalah tiga game, tapi game selanjutnya dilapangan ada 2pasang pemain puteri. Ganda puteri Liliyana Natsir dan Vita Marissa berhasil mengalahkan pemain Jepang, begitu pula Adriyanti Firdasari, Jo Novita, Greysia Polii dan Pia Zebadiah melibas para puteri Jepang.
Pertandingan selanjutnya, Indonesia berhasil melibas negeri Belanda. Dengan telak 5-0 yah Indonesia bergabung di grup C bersama Jepang dan Belanda, dua negara yang telaj menjajah Indonesia di permalukan melalui sabetan raket serta peluu bulu angsa. Amazing, Indonesia juara grup, menghindari China di babak perempatfinal dan menang 3-0 atas Hongkong. Di babak semi final, melawan Jerman, Maria Kristin gagal sumbang point hingga memaksa Pia Zebadiah untuk turun menjadi pahlawan kala itu, dengan menyumbang poin untuk almarhum sang ayah sehingga membawa Uber tim Indonesia yang dimanajeri Susi Susanti, legenda ratu bulutangkis Indonesia ke Final dengan skor 3-1 dan akhirnya setelah sekian dekade tim puteri Indonesia tak terdengar gaungnya kini para srikandi tu menunjukkan kebolehannya.
Dipartai puncak funal melawan china kulihat dari layar televisi itu betapa gigih dan semangat pantang menyerah yang tak padam tergambar dari setiap sabetan raket dan langkah kaki srikandi bulutangkis Indonesia dalam mengejar buluangsa itu.
Walai akhirnya tim garuda harus mengakui sang unggulan pertama dengan kekalahan 0-3.
Tapi dari turnamen ini, rakyat Indonesia kembali melahirkan suatu organisasi perkumpulan orang-orang pecinta bulutangkis. lama orang-orang acuh pada olahraga ini, namun kini Euforia kebersamaan dan kesatupaduan itu lahir untuk mendukung para atlet bulutangkis berprestasi terhadap negara Indonesia
to be CONTINUE :)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)




















Tidak ada komentar:
Posting Komentar