Minggu, 20 Mei 2012

The Story of Me : Aku dan Bulutangkis (part3)

Then, this is a continue of story from mouse year. Dimana kali ini tentang ketegangan olimpiade yang baru pertama kali kurasakan di posisi penonton.
Usai pegelaran Djarum Indonesia Open Superseries 2008 lalu, aku ingat ketika terakhir aku menyaksikan turnamen olahraga di TV begitupun berita olahraganya dibulan juni, kudengar sang komentator dan sang narator pembaca berita menjabarkan bahwa pada Agustus 2008 akan digelar suatu pertandingan olahraga bulutangkis akbar sekelas thomas-uber di Beijing China. Sejak saat itu momen menonton pertandingan tersebut adalah hal yang paling aku nantikan. Usai kelulusan dan Juli, aku diterima disuatu sekolah putih biru negeri. Dari situ aku berkenalan dengan seorang kawan chinese, Ghrizselda Joanita namanya. Ternyata dia sama denganku, seorang penikmat bulutangkis mungkin dia tau lebih banyak dari aku, lantas aku tak mungkin menyia-nyiakan kesempatan mengutak-atik info bulutangkis yang lebih banyak, termasuk tentang olimpiade. Darinya aku tahu bahwa tanggal pasti pegelaran olimpiade itu adalah 08 Agustus, sejak itu di bulan Agustus usai tanggal 8 tersebut, aku gemar membeli koran Jawapos untuk menambah info seputar bulutangkis olimpiade itu, karena susahnya mencari info olahraga bulutangkis di tv tanah air.
Begitupun penyiarannya TVRI yang berhak menyiarkan pertandingan tersebut tidak pas denganku, karena channel tvri di tv ku tidak begitu jernih alias banyak gangguan. Namun, itu bukan menjadikan sebuah halangan untuk menonton laga para pebulutangkis Indonesia di kandang Barongsai tersebut, karena kala itu aku masih punya sebuah Handphone yang memiliki fitur bisa nonton tv. Akhirnya ku manfaatkan untuk menonton turnamen olimpiade tersebut. Tak berhenti disitu, aku rajin membeli surat kabat untuk mengetahui info tentang ajang olimpiade itu. Dan usahaku membuahkan hasil, walau tak sepenuhnya menonton setiap laga, karena kurang tahu jadwal, tapi aku berhasil menjadi saksi bagaimana seorang Maria Kristin Yulianti dengan usahanya berhasil merebut medali perunggu menggagalkan usaha seorang Lu Lan di depan publiknya sendiri. Begitupun Markis Kido/Hendra Setiawan merebut medali emas atas Cai Yun/Fu Haifeng menggagalkan misi sapu bersih tembok china itu, sayang Liliyana Natsir & Nova Widianto gagal menyumbang emas dan hanya memeroleh perak tapitetap tak kan pernah mengurangi kecintaanku terhadap Liliyana Natsir.
To be Continue !!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar