Jumat, 18 Mei 2012
The Story of Me : Aku dan Bulutangkis (part2)
Masih ditahun yang sama, 2008 cerita tentang aku dan bulutangkis masih berlanjut. Turnamen Thomas-Uber cup kala itu memang telah usai, namun efek euforia kecintaan terhadap bulutangkis Indonesia yang baru saja terlahir kembali terasa belum padam.
Pasca turnamen Thomas-Uber 2008 Demam mengayunkan raket, menepok bulu angsa itu kini kembali melanda negeri Indonesia, negeri yang dikenal melalui segudang prestasi olahraga bulutangkisnya. Bulutangkis memang olahraga kebanggaan Indonesia, dalam keheningannya berbaga macam prestasi mampu terukir walau hanya sedikit media yang mau memberitakannya.
Kampungku pun terjangkit virus bulutangkis ini, dan aku yang awalnya tak bisa tiba-tiba dengan kegigihanku bermain dan berlatih dengan dinding kamarku dalam berkonsenterasi memperhatikan buluangsa kini aku bisa, dan teman-teman yang selalu meremehkanku pun kagum.
Disekolah, aku sempat mengajak teman yang juga rivalku dikelas untuk urusan akademik bermain bulutangkis bersama, kulihat dari mimik wajahnya ia terkesan meremehkanku, ah aku memang baru belajar, aku baru bisa tapi bukankah dengan kegigihan semua bisa berubah ? dan terbukti aku bisa mengalahkannya. Teman-temanku kembali kagum sampai akhirnya aku memutuskan bermain bulutangkis bersama temanku yang sering membelaku ketika aku dihina teman-temanku yang dengki padaku. Namanya Zainal Abidin, aku enjoy bermain dengannya terasa seperti dia bukan lawan kami justru saling belajar, dia memberiku berbagai bola umpan tinggi, padahal aku belum belajar namun kami saling menyuport akhirnya kami bisa sampai teman-teman yang lain menonton permainan yang menurutku saat itu kelas dunia.
Dua minggu tersisa menuju kegiatan study wisata ke Yogyakarta kuhabiskan bersama teman-temanku yang lainnya untuk bermain bulutangkis bersama. Keceriaan saat itu terasa sangat cepat, karena akhirnya tiba waktu untuk pergi ke Yogyakarta, disana demam bulutangkis masih terasa, teman-temanku ada yang membawa raket dan memainkannya dipantai selatan sungguh moment yang lucu karena mereka nekat melawan hembusan angin pantai yang sungguh kencang.
Tiga hari dikota gudeg terasa begitu cepat, setelah kembalinya aku dari Yogya , aku memutuskan untuk lebih banyak diam dirumah dan mencari info tentang bulutangkis, dan ternyata itu susah !.
Sampai suatu hari aku melihat iklan Indonesia Open Super Series 2008 di Trans7 di bulan Juni. Itu membuatku semangat memperhatkan channel televisi itu setiap waktu.
Tiba saatnya pergelaran Indonesia terbuka, banyak kejutan yang terjadi di masa itu. Dan mulai saat itu aku benar-benar mengidolakan sosok Maria Kristin Yulianti, permainannya sangat cantik, kegigihannya, semangatnya saat mengejar bulu angsa membuat aku kagum. Begitupun sosok Liliyana Natsir dan Vita Marissa permainan yang kompak benar-benar mematahkan pertahanan lawannya. Begitupun Simon dan Sonny yang kompak menciptakan final sesama Indonesia.
Sungguh terimakasih terhadap Trans7 yang mau menyiarkan turnamen itu, dan tetap mempertahankan momentum demam bulutangkis di seluruh Indonesia.
To be Continue :)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)













Tidak ada komentar:
Posting Komentar